Friday, September 13, 2013

Kaidah Luka

ada apa dengan luka?
setiap orang seolah menjauhinya
lupakah mereka?
dunia seisinya tidak kenal bahagia
tanpa luka

naif juga
menuntut bahagia tanpa mengerti kaidah luka
bukankah ujian Tuhan bisa berupa-rupa?
bisa jua berwujud sebongkah luka
tentunya

apakah persoalan luka yang manusia takutkan?
kurangkah Tuhan menyajikan janji akan penebusan?
bahu pemberian Tuhan lengkap dengan kekuatan
ujian Tuhan juga punya batasan

lalu?
sejenak luangkan waktumu
renungkan di pilumu
lukakah itu?
atau azab terpantas bagimu?

yang pasti
bahagia menanti.
Share:

sekarat

kamu pernah jatuh cinta seperti aku?
apa kamu pernah merasa lebih jatuh cinta dari aku?
rasanya tidak akan pernah kering airmataku.
salahkah aku yang terlalu sering menangisimu?
di sela kemarahan yang hadir.
di antara perdebatan yang tersinyalir.
di tengah adu mulut yang tak kunjung berhenti mengalir.

setiap jauh darimu.
seolah aku punya seribu satu cara untuk mendapatkan perhatianmu.
aku bisa sakau rindu tanpa pedulimu.
apa memang hanya aku yang mulai membutuhkanmu?

apa memang hanya aku yang sekarat tanpamu?
Share:

Wednesday, September 4, 2013

Menggagalkan Takdir

Tuhan,
apakah takdirku sudah Kau tetapkan?
bagaimana kalau aku menyusun rencana menggagalkan?
bisakah?
bukan. bukannya aku tidak percaya dengan apa yang Kau tetapkan untukku.
hanya saja,
bisakah Kau libatkan aku,
berdiskusi denganku,
dan luangkan waktu sibukMu untuk memahami keinginanku?
ah, ini memang hanya imajinasiku
untuk terlibat dalam persidangan takdir dan ketetapanMu
memangnya siapa aku?
yang dengan pongah menawarkan diri untuk Kau anak emaskan
memangnya apa istinewaku?
yang dengan angkuh berkeinginan agar pintanya dikabulkan
Tuhan, dengar dulu
pintaku tak melulu
ini rahasia antara aku dan Kamu
Kau tentu tahu, dia sangat aku rindu
yang kuinginkan hanya satu
ya itu, satu
jadikan aku dan dia, satu
bersama selalu
bisa kan tentu?
Share:

Saturday, August 17, 2013

sebuah nama

aku memanggil namamu
apa kau dengar itu?
pelan memang suaraku
lirih senandungkan lagu rindu
iya, aku merindukanmu.

seperti pertama saja berpisah lama
tradisionalnya cinta
mungkin begitu kata mereka
mereka tahu apa memangnya?
tidak pernah mereka benar-benar jatuh cinta
sejatuhnya.

aku memanggil namamu
dalam gesekan daun pagi di samping jendela kamarmu
dalam hembusan angin yang membelai rambutmu
dalam gemericik air yang membasuh keningmu
ada aku
yang merindukanmu.

aku memanggil namamu
mentari tahu
bulan membiarkanku
hatimu mendengarkanku
lalu kamu?

juga tahu?
juga rindu?
Share:

Tuesday, July 16, 2013

Memiliki (tidak) Sama dengan Mencintai

apakah pernah kita sejenak berfikir tentang apakah definisi dari mencintai? tapi biasanya setiap kali ditanya apa itu cinta dan apa itu mencintai, sebagian besar orang akan mengatakan bahwa 'cinta' atau 'mencintai' adalah sebuah pengertian yang terlalu luas, terlalu relatif, dan terlalu abstrak untuk diuraikan dalam kalimat-kalimat berbahasa.

hmmm..

maaf, tapi saya keras kepala. saya masih saja ingin menguraikan maknanya secara perlahan. setidaknya, menurut pemikiran saya dan pengalaman yang saya punya (entah itu saya alami sendiri, hasil saya mengamati, hasil saya ngerumpi, atau hasil saya nguping sana sini). itu terserah saya. sepakat?

baik.

ketika kita pergi ke sebuah mall, atau yah.. toko lah minimal, kita pasti akan mempunyai keinginan untuk membeli sesuatu. entah apapun itu. di saat kita memiliki uang untuk membeli barang tersebut, kita (biasanya) tidak akan ragu untuk segera membelinya dan segera memiliki barang tersebut. NAH! muncul kata memiliki, kan? setelah kita memberikan uang kepada sang penjual, barang tersebut berpindah tangan ke tangan kita dan bisa kita bawa pulang untuk kita miliki.

sederhananya, demikianlah bagi saya definisi memiliki. bagi saya, memiliki yang mempunyai arti mendekati absolut hanya bisa diaplikasikan pada benda-benda. yah, ini sih analogi saya saja. kalian boleh, kok, mempunyai analogi lainnya. ;)

lalu, apa hubungannya memiliki dengan mencintai?

banyak orang yang sedang jatuh cinta dan memiliki pasangan menyalahkaprahkan definisi tersebut. asumsi yang banyak saya temui adalah ketika mereka sudah memiliki pasangan, maka pasangan tersebut adalah miliknya seorang. (kalau tertawa ala @sudjiwotedjo begini: heuheuheuheu..)

saya pernah membaca di sebuah akun Twitter sebuah kalimat menarik. begini kalimatnya: a beautiful girl never really belongs to you.

hahahahaha, see? pernyataan tersebut sedikitnya sudah membuktikan bahwa kita tidak pernah bisa memiliki siapapun. semua manusia di dunia ini hakikatnya hanya milik satu saja, Tuhan Yang Esa. :) sederhana bukan?

kembali lagi.

mencintai memang hak setiap manusia di bumi ini. siapapun berhak mencintai siapapun. tidak ada hukum yang melarang kita mencintai siapa. tapi, bukan berarti ketika kita sudah mendapatkan cinta orang yang kita harapkan mencintai kita maka kita berhak mengklaim dia sebagai 'milik' kita. NO. kalaupun terucap kata 'kepemilikan' itu, kepemilikan itu bukanlah kepemilikan absolut yang lalu menghalalkan diri kita berbuat semena-mena dan seenaknya.

mencintai harus dikembalikan kepada hati. mencintai TIDAK sama dengan memiliki.

bahkan seringkali, mencintai juga berarti membiarkan cinta kita berdiri sendiri.
tanpa diketahui.
tanpa dibalas dengan dicintai.
atau bahkan, sering juga, yang mencintai itu ditinggal pergi.

tapi, ada juga yang saling mencintai. banyak. :)

cheers.
Share:

Saturday, July 6, 2013

Kita dan Jarak

menurutmu, apa yang membuat kita nampak seperti sembilu yang saling menyakiti ulu? jarak, katamu. biarkan sejenak aku berpikir. sebentar.. aku ingin bertanya kepada mereka, apakah sebenarnya jarak itu?

kata mereka:
"jarak adalah bilangan yang memiliki kekuatan untuk memisahkan."

aku berlari menuju jawaban lain. aku belum puas.

"jarak adalah angka yang terlambang atas suatu tempat dan tempat lainnya."

ah, sama saja.

bukan ini. bukan ini. begitu teriakan hatiku bertalu.

lalu?

aku harus bertanya kepada siapa ya kira-kira?

aku sendiri berpribadi yang bermusuhan dengan jarak. namun bukan jarak yang bilangan. bukan pula jarak yang tersusun dari angka puluhan, ratusan, jutaan, atau bahkan milyaran.

jadi begini..

aku mencintaimu. akan selalu begitu.
tiba-tiba makhluk [yang katanya] bernama jarak ini hadir di antara kita. tidak jauh, mungkin hanya beberapa ratus kilometer saja. [ah, lagi-lagi angka] [ah, angka lagi, angka lagi]

tapi,
mengapa anehnya aku tidak pernah merasa jauh darimu, ya? bagiku, hatiku adalah rumah untukmu. begitupun kamu yang mendeklarasikan hatimu sebagai rumahku. begitulah, perjanjian atas ikatan entah ikatan apa yang kita punya dan sepakati bersama.
begitu bukan, Sayang?

Sayang, bukankah bagi kita jarak memiliki definisi lain? dan kita sudah bersumpah janji bahwa jarak itu tidak diijinkan memasuki pintu manapun dalam ruang relung kita.
sudah, jangan bingung. jarak ya jarak.

bagi kami, para pecinta sejati ini, jarak terjauh bukan milyaran kilometer atau milyaran tahun cahaya yang terhitung dan terefleksikan dalam ukuran angka.
bukan.

jarak adalah ketika kalian bersama, berdua, saling menatap mata dan menyelami isi hati berdua, tidak ada lagi kata kita, tidak lagi ada bersama, dan tidak lagi ada cinta.
itulah hakikat jarak sesungguhnya.

mengertikah?
Share:

Friday, July 5, 2013

Tuhan, Aku Terlahir Memalukan

Tuhan;
apakah aku terlahir memalukan?
sampai nista kerap menghampiri
dan enggan pergi?

Tuhan;
apakah aku terlahir di kubangan dosa?
sehingga surga rasanya jauh tak tergapai
hanya api neraka yang menjelaga hati

Tuhan;
apakah aku ditakdirkan berada di labirin kesesatan?
sehingga jalanku nampak tidak karuan
sehingga kebenaran hanya sebuah definisi tidak beraturan

Tuhan, apakah aku terlahir memalukan?
Share: